Posted by: Dommie Reynold B | Friday, February 13, 2009

SELF BRAND : MARKETING IDEA

(Sebuah Ulasan Marketing Policy Bagi Para Caleg yang Bertarung di Pemilu 2009).

Sebuah gagasan ilmiah dari Begawan Marketing dunia, Prof. Philip Kotler bahwa pemasaran meliputi berbagai aspek yang sangat luas cakupannya (Kotler, 2005). Pemasaran menurut sang begawan tidak saja berupa pemasaran produk (barang dan jasa), melainkan juga meliputi tempat, pemasaran bangsa, pemasaran nirlaba, pemasaran ide dan gagasan, dan pemasaran diri. Setiap gagasan di atas mempunyai bahasan tersendiri dan berbeda satu sama lain.

Khusus dalam pembahasan ini, pemasaran dilihat dalam konteks bagaiman seseorang dapat menarik orang lain untuk menjadi tertarik kepadanya. Dalam konteks ini adalah bagaimana seseorang mampu menarik minat orang lain terhadap dirinya, atau dikenal dengan self branding. Untuk dapat memasarkan citra seseorang kepada orang lain, maka syarat utama yang harus dipahami adalah orang tersebut harus menjadikan dirinya sebagai sebuah brand (self brand). Ya, diri anda adalah brand. Sebagai sebuah brand, maka diri anda harus dipasarkan kepada khalayak yang menjadi calon pemilih potensial.

Konteks pembicaraan ini lebih saya spesifikasikan pada peristiwa akbar di tahun 2009, yaitu pemilu legislatif di bulan April 2009 dan Pilpres ditahun yang sama Bulan Oktober. Selama berlangsungnya peristiwa akbar ini, tentu saja para caleg di berbagai tingkatan pemilihan turut bersaing memperebutkan kursi di setiap daerah pemilihan baik di tingkat kabupaten/kota, tingkat propinsi maupun tingkat pusat yang jumlahnya terbatas. Dalam pengamatan saya, sampai dua bulan menjelang dilaksanakannya Pemilu ini sebagaian besar para pemilih baik pemilih pemula maupun pemilih lama yang kebingungan memilih siapa calon yang akan dicentreng nanti – sistem baru pemilu menegaskan setiap calon pemilih mencentreng nomor urut pemilih, bukan lagi mencoblos tanda gambar seperti pada pemilu 2004. Hasil simulasi KPU menunjukkan cara ini lebih sulit dan tidak efisien baik bagi para pemilih maupun bagi petugas pelaksana pemilu.

Fokus pembahasan saya ini lebih mengarah pada bagimana seorang caleg dapat memasarkan dirinya kepada calon konstituennya? Tentunya anda bertanya-tanya mengapa saya memakai kata “memasarkan”? Setidaknya ada lima alasan yang menyebabkan prinsip-prinsip pemasaran khususnya pemasaran pribadi dibahas disini:

1. Jumlah Caleg Sangat Banyak.

Indikasi pertama marketing diperlukan dalam upaya memenangkan pemilu adalah jumlah caleg disetiap tingkatan daerah pemilihan lebih dari lima orang. Misalkan saja partai A, memiliki lima caleg disetiap untuk daerah pemilihan kabupaten/kota. Belum lagi partai lainnya. Pengamatan saya para caleg belum sepenuhnya memahami hal ini, kecuali iklan 1 arah (bukan dua arah) dan masih memakai sistem salesmanship.

2. Masyarakat Mulai Kebingungan Terhadap Calon-Calon Legislatif yang Ada.

Dalam pengamatan saya, para calon pemilih saat ini masih kebingungan untuk memilih siapa caleg yang akan dicentreng nantinya. Kebingungan ini terjadi tidak saja karena jumlah caleg yang bertambah banyak, tetapi juga sistem pemilu yang baru, kemungkinann adanya kesalahan dalam pemilu sangat mungkin terjadi.

3. Kurangnya Sosialisasi Baik dari KPU/KPUD Maupun dari Parpol dan Calegnya sendiri.

Selama ini cara sosialisasi pemilu sudah baik, setidaknya bagi saya pribadi, tetapi ketika saya menemui orang-orang, ternyata banyak di antara mereka yang masih bingung dengan sistem pemilu 2009 ini. Hal ini harus disikapi dengan baik oleh caleg saja tetapi juga oleh partai politik yang diusungnya.

4. Lemahnya persepsi dan citra masyarakat terhadap para caleg.

Kebingungan yang dialami oleh sebagaian besar konstituen diakibatkan oleh persepsi yang lemah tidak saja terjadi karena kurangnya sosialisasi tetapi juga karena citra yang terbentuk kurang baik. Masyarakat kurang antusias terhadap para caleg yang ada. Sebagaian masyarakat malah bersuara pesimis terhadap para caleg tersebut. Tidak jarang kita mendengar suara-suara sumbang seperti: “mereka semua sama saja”, dan sebagainya.

5. Pesan Politik yang Disampaikan Terlalu Monoton.

Setiap caleg memiliki opsi kampanye yang hampir sama, tidak ada kreativitas yang ditonjolkan oleh para caleg tersebut, seharusnya para caleg ini bisa menyampaikan pesan yang unik, menyentuh konstituennya dan meraih suara aktual tentu saja.

Jika sudah begini, maka money politic yang akan menjadi jawaban akhir yang kurang menyenangkan. Pembohongan terhadap masyarakat umum, serta kemenangan hanya kan menjadi milik mereka yang punya boundary dan status quo yang kuat, sementara para caleg yang baru dengan partai politik yang baru serta boundary dan bargaining position yang lemah tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk menyiasati hal yang demikian, maka para caleg yang akan bertarung dalam pemilu 2009, diharapkan tidak saja menerapkan prinsip salesmanship-nya tetapi juga mampu mengibarkan bendera marketing-nya sendiri yang mampu mengubah citra calon pemilih terhadap caleg yang bersangkutan.

Pelaksanaan yang nyata dari proses marketing ini adalah bagaimana seseorang mampu memasarkan dirinya dengan menerapkan beberapa elemen dasar marketing, yaitu:

1. Brand.

Elemen dasar yang pertama adalah brand. Nama adalah sesuatu yang dasariah yang mampu membentuk citra yang kuat. Dalam hal ini, tentu saja saya tidak sepakat dengan kata-kata Shakespeare “Apalah artinya sebuah nama, jika mawar itu tidak berwarna merah dan harum”. Tetapi perlu disadari, nama mampu mengubah suasana menjadi baru dan menjadikan segala hal tersebut berbeda. Untuk itu sangat penting bagi seseorang untuk menjadikan namanya sebagai sebuah brand bagi dirinya dan bagi calon pemilihnya.

2. Service and Promise.

Di dalam sebuah pelayanan ada janji-janju yang diberikan. Sebagai calon wakil rakyat, seorang caleg harus mempunyai janji dari visi dan misi yang jelas dan program-program politik yang tersusun dengan baik. Janji politik ini tidak sekedar pemanis telinga saja, tetapi harus mampu diwujudkan dalam kondisi nyata. Hal ini dengan sendirinya akan membentuk kepercayaan yang kuat kepada masyarakat. Kenyataanya, banyak janji-janji politik yang diucapkan selama kampanye akhirnya dilupakan, seiring dengan sang wakil rakyat menduduki “kursi panas” DPR/DPRD. Seorang caleg harus memiliki komitmen politik yang harus ditepati dan dilaksanakan.

3. Segmentation and Targeting.

Setiap daerah pemilihan telah ditetapkan bagi setiap caleg, tentu saja para caleg ini akan berusaha meraih suara sebanyak-banyaknya dari dapil yang telah ditetapkan tersebut. Hal ini tentu saja akan memunculkan persaingan yang sangat seru. Seorang caleg harus menentukan segmentasi aktual dari calon pemilihnya dan seberapa besar segmentasi mampu mempengaruhi cakupan suara yang disyaratkan.

4. Positioning.

Seorang caleg harus mampu memposisikan dirinya secara unik dalam benak konsumen, membuat ingatan tersebut begitu mendalam. Positioning yang kuat tidak saja mampu membuat ingatan pemilih menjadi mendalam, tetapi juga mampu membuat para pesaing kesulitan untuk meraih suara dari segmen yang telah anda raih tersebut. Positioning ini dapat dilakukan dengan cara membuat kalimat-kalimat pendek dan unik, menyentuh ke pemilih dan mengandung citra yang kuat di dalamnya.

5. Differentiation.

Diferensiasi dimaksudkan untuk membuat anda berbeda. Diferensiasi ini harus nyata dan jelas di mata calon pemilih. Diferensiasi akan meyakinkan calon pemilih bahwa caleg tersebut berbeda, tidak saja dari janji-janji politiknya, tetapi juga dalam integritas kehidupan sehari-hari. Diferensiasi juga harus mampu menjangkau sampai ke grass roots, kepada konstituen yang telah ter-segmen-kan tersebut.

6. Publicity.

Memanfaatkan media merupakan cara yang terbaik dalam hal pelaksanaan publisitas ini. Media tidak saja melalui iklan-iklan tv (karena memang bukan itu publisitas yang dimaksudkan disini) sebagaimana dilakukan oleh para parpol selama ini, tetapi dapat juga berupa pemberitaan-pemberitaan yang mampu mendongkrak popularitas, yang masuk akal dan verbatim, namun disatu sisi, mampu menggugah konstituen. Pemanfaatan media internet adalah salah satu caranya, tentu saja bila di daerah/dapil yang bersangkutan, internet telah menjadi sesuatu yang familiar. Kampanye online ini merupakan salah satu rahasia sukses Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat.

7. Tim Sales yang Kreatif dan Inovatif.

Inilah ujung tombak pemasaran bagi seorang caleg. Anda harus memilih dan mempekerjakan tenaga sales yang kreatif dan inovatif. Sedapat mungkin tenaga sales tersebut telah berpengalaman dalam bidang ini. Tetapi tim sales ini akan menjadi sia-sia jika tim perencana yang bekerja di belakang anda, tidak bekerja secara maksimal. Itu artinya, seorang caleg harus memiliki kekuatan penuh dalam tim strategisnya yang mampu menopang kinerja tim sales di lapangan. Pada saat kampanye terbuka nanti tinggal action-nya saja, Anda sudah memiliki basic yang kuat dari sekarang untuk siap bertarung di pemilu nanti dengan strategi pemasaran yang jitu dan ampuh tentunya.

Pada akhirnya, setiap orang pantas berbuat sesuatu bagi dirinya, orang lain dan sesama, serta berbuat sesuatu bagi kehormatan bangsa dan negara. Di atas semuanya, milikilah integritas yang kuat sebagai seorang calon legislatif agar, Anda tidak saja tampil sebagai wakil rakyat, pemimpin masyarakat, tetapi juga menjadi teladan bagi orang-orang yang telah memilih anda.

Selamat Menjalani Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden tahun 2009.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: