Posted by: Dommie Reynold B | Sunday, February 22, 2009

STRATEGIC INTENT

Seorang manajer memiiki dua fungsi yang hampir balance, yaitu fungsi operasional dan fungsi strategis. Fungsi operasional, lebih mengarah pada bagaimana seorang manajer mampu menguasai hal-hal teknis di dalam perusahaan. Atau dengan kata lain, seorang manajer harus memiliki kemampuan teknis yang berhubungan dengan bidang dimana perusahaan tersebut berada. Selain itu, seorang manajer harus memiliki kemampuan manajerial yang berhubungan dengan bagaimana seorang manajer harus mampu mengambil suatu keputusan berdasarkan analisis manajemen yang mendalam.

Permasalahan yang dihadapi kini adalah ketika masa depan menjadi semakin sulit ditebak, pesaing yang invisible, kondisi ekonomi yang tidak menentu, krisis keuangan global dan nasional, dan seterusnya. Sebagai seorang manajer kemampuan analisik dalam menjalankan fungsi strategis tersebut sangat diperlukan. Tetapi sayangnya, sebagaian besar manajer dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa, mereka tidak mempunyai suatu perencanaan tentang masa depan. Hal ini tentu saja menjadi riskan karena perusahaan berada di bawah kendali perubahan, tidak sebaliknya mengendalikan perubahan tersebut. Manajer seperti ini, akan selalu terbawa oleh arus dan menjadi follower saja.

Pada dasarnya, manajer yang demikian mendasarkan pemikiran dan arahan perusahaan pada strategic planning, strategic corporate dan sebagainya. Suatu perencanaan yang lebih mengarah pada realisasi analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threath). Analisis ini jelas terlalu sempit dan kadang-kadang tidak memiliki tujuan yang jelas. Mengapa? Gambaran pasar yg terus berubah, akan sangat menyulitkan jika dianalisis dengan analisis SWOT tersebut.

Garry Hamel dan C.K. Prahalad membeberkan temuan mereka pada tahun 1989 dalam Harvard Busness Review, dengan membuat sebuah strategi yg lebih mengarah ke masa depan dan bersifat global, yaitu Strategic Intent. Strategic Intent memberikan satu-satunya tujuan yang harus dapat diperjuangkan dengan kekuatan komitmen kokoh dari para karyawan, yaitu MENGGESER KELUAR YANG TERBAIK (APAPUN DAN PESAING MANAPUN) ATAU MEMPERTAHANKAN YANG TERBAIK (YANG DIMILIKI SENDIRI), SECARA GLOBAL.

Apa yang dimaksud dengan strategic intent ini? Strategic intent merupakan proses perencanaan yang berperan sebagai “penyaring” bagi strategi-strategi yang diterapkan nantinya. Jadi strategic intent dapat diartikan sebagai sebentuk perencanaan yang berbasis pada visi dan tujuan pokok perusahaan. Dengan demikian strategic intent lebih berorientasi pada mimpi di masa depan, hal ini berbeda dengan strategic planning yang berbasiskan analisis SWOT (suatu gambaran analisis perencanaan untuk masa kini saja). Strategi Intent pada dasarnya memiliki tiga atribut/sifat utama, yaitu:

a) Sence of Direction: sebuah sudut pandangan tentang pasar jangka panjang atau posisi kompetitif perusahaan yang dibangun melewati dasawarsa yang akan datang. haruslah melihat ke masa depan dan ini harus cepat memberikan petunjuk yang valid dan dibuat menurut selera.

b) Sence of Discovery: strategic intent mensyaratkan suatu cara bersaing yang unik di masa depan. Hal ini akan memaksa karyawan untuk keluar dan menyelidiki wilayah kompetitif yang baru.

c) Sence of Destiny: strategic intent memiliki sisi emosional; hal itu menjadi tujuan karyawan yang tak terpisahkan dan sangat berharga.

Strategic intent mengimplikasikan besarnya ruang lingkup jangkauan suatu perusahaan – yang dapat diukur secara tepat. Sumber-sumber daya dan kapabilitas yang ada tidak akan cukup untuk meraih ruang lingkup tersebut. Hal ini memaksa perusahaan tersebut untuk lebih inovatif, untuk melakukan semua yang terbaik dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada, yang terbatas. Strategic intent menciptakan ketidakseimbangan ekstrim antara sumber-sumber daya dan ambisi-ambisi yang harus dikejar. Kemudian manjemen puncak menantang perusahaan agar menutupi gap tersebut dengan cara membangun keunggulan-keunggulan baru secara sistematis.

Untuk membuat suatu strategic intent diperlukan langkah-langkah dasar yang harus ditempuh antara lain: menetapkan visi perusahaan, menyusun tujuan pokok dan misi perusahaan untuk masa depan (misalkan dalam 5-10 tahun). Menganalisis SWOT, yang berfokus pada keadaan eksternal, bukan pada kekuatan internal. menetapkan sasaran, mengembangkan strategi, merancang program, mengimplementasikan program dan evaluasi yang berorientasi pada waktu yang akan datang.

Namun, hal terpenting yang harus diingat bahwa rencana-rencana tersebut dibuat tidak saja sekedar memproyeksi keadaan perusahaan di masa depan semata. Pertanyaannya yang muncul kemudian adalah apakah strategic planning tidak berguna lagi? Tentu saja tidak, strategic planning yang bersandar pada analisis SWOT/TOWS, tetap digunakan pada kondisi persaingan saat ini, sementara manajer harus menyusun strategic intent bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan di masa depan. Dengan demikian strategic intent akan menentukan apakah perusahaan sudah benar-benar siap menghadapi pesaing dan perubahan yang bakal terjadi di masa mendatang.

Sumber:

http://www.12manage.com/methods_hamel_prahalad_strategic_intent.html

http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=4051&pageNum=5

Usmara, Usi. 2008. Pemikiran Kreatif Pemasaran. Asmara Books. Yogyakarta.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: